Senin, 05 April 2010

Sajak Hisab Jiwa

Karena kau menjanjikan cahaya
Di waktu aku mengarungi lekukan daun pepaya
Akan kuhempaskan bisikan mengharap
Terlunta-lunta menghilang dalam sekejap

Setiap apa yang kau oretkan di kertas putih
Menjadi bekas-bekas abadi dalam madani
Takkan ada pengkaburan angka-angka
Karena setiap langkahku telah merata

Jiwa-jiwaku bangkit di atas tumpukan dinar
Mengkilau menyilaukan indera penglihat
Menyamarkan jalan setapak menuju keabadian
Jalan-jalan yang merindukan musafir tuhan

o…gusti!
Bagaimana aku bisa terlepas dari ikatan birahi
Aku melawan, dia menyerangku lebih ganas lagi
Aku diam, dia mengrogotiku sampai aku lumpuh

Bagaimana nasibku kelak?
Tatkala catatan-catatan amal diumumkan
Sementara tubuh-tubuh banjir dengan peluh dingin
Jiwa-jiwa bergetaran
Menanti qadahya dari tuhan

Seandainya kutahu akan seperti ini
Takkan kubiarkan nafsu meracuni
Sawah-sawah suburku dahulu kala

Tak ada guna kata menyesal saat ini

Aku pasrah…!
Mendah hujan apa saja
Menghujam jiwa lemah ini

07 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa Komentar Anda tentang karya saya?