Karena kau menjanjikan cahaya
Di waktu aku mengarungi lekukan daun pepaya
Akan kuhempaskan bisikan mengharap
Terlunta-lunta menghilang dalam sekejap
Setiap apa yang kau oretkan di kertas putih
Menjadi bekas-bekas abadi dalam madani
Takkan ada pengkaburan angka-angka
Karena setiap langkahku telah merata
Jiwa-jiwaku bangkit di atas tumpukan dinar
Mengkilau menyilaukan indera penglihat
Menyamarkan jalan setapak menuju keabadian
Jalan-jalan yang merindukan musafir tuhan
o…gusti!
Bagaimana aku bisa terlepas dari ikatan birahi
Aku melawan, dia menyerangku lebih ganas lagi
Aku diam, dia mengrogotiku sampai aku lumpuh
Bagaimana nasibku kelak?
Tatkala catatan-catatan amal diumumkan
Sementara tubuh-tubuh banjir dengan peluh dingin
Jiwa-jiwa bergetaran
Menanti qadahya dari tuhan
Seandainya kutahu akan seperti ini
Takkan kubiarkan nafsu meracuni
Sawah-sawah suburku dahulu kala
Tak ada guna kata menyesal saat ini
Aku pasrah…!
Mendah hujan apa saja
Menghujam jiwa lemah ini
07 Februari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa Komentar Anda tentang karya saya?