Kamis, 18 November 2010

Sajadah Hati

Poin-poin perjanjian belum lama sirna dari daun telingaku
Bergetaran merekam sayup-sayup suara dari kedalaman
Masih adakah bekas terurat yang dapat kubaca?
Sementara peninggalan-peninggalannya diratakan dengan tanah

Non jauh di kedalaman sana
Terdapat pulau seribu, bersit dan gerak hidup berpola-pola
Di sanalah tuhan menanam bibit tingkah dan prilaku
Lalu dicocok tanam oleh hamba-hamba sahayanya

Cahaya tuhan mulai besemilir menerawang di tiap-tiap pintu nafas
Memonitoring segala yang ada dan mungkin ada

Aku dambakan
Kami impikan
Mengulurkan hati sebagai terompa perjalanan

Kini hatiku berselimut batu
Hitam pekat beraroma nanah
Jalanku gelap tak ada cahaya

Dengan sajadah hati
Kumulai segalanya dari putih
Memacu kuda secepat cahaya
Memburu alam yang tak mengenal kehancuran


April 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa Komentar Anda tentang karya saya?